Serba Serbi
No Comments

Sejarah Kota Yogyakarta

Berdirinya Kota Yogyakarta berawal dari adanya Perjanjian Gianti pada Tanggal 13 Februari 1755 yang ditandatangani Kompeni Belanda di bawah tanda tangan Gubernur Nicholas Hartingh atas nama Gubernur Jendral Jacob Mossel. Isi Perjanjian Gianti : Negara Mataram dibagi dua : Setengah masih menjadi Hak Kerajaan Surakarta, setengah lagi menjadi Hak Pangeran Mangkubumi. Dalam perjanjian itu pula Pengeran Mangkubumi diakui menjadi Raja tas setengah daerah Pedalaman Kerajaan Jawa dengan Gelar Sultan Hamengku Buwono Senopati Ing Alega Abdul Rachman Sayidin Panatagama Khalifatullah.

Adapun daerah-daerah yang menjadi kekuasaannya adalah Mataram (Yogyakarta), Pojong, Sukowati, Bagelen, Kedu, Bumigede dan ditambah daerah mancanegara yaitu; Madiun, Magetan, Cirebon, Separuh Pacitan, Kartosuro, Kalangbret, Tulungagung, Mojokerto, Bojonegoro, Ngawen, Sela, Kuwu, Wonosari, Grobogan.

Setelah selesai Perjanjian Pembagian Daerah itu, Pengeran Mangkubumi yang bergelar Sultan Hamengku Buwono I segera menetapkan bahwa Daerah Mataram yang ada di dalam kekuasaannya itu diberi nama Ngayogyakarta Hadiningrat dan beribukota di Ngayogyakarta (Yogyakarta). Ketetapan ini diumumkan pada tanggal 13 Maret 1755.

Tempat yang dipilih menjadi ibukota dan pusat pemerintahan ini ialah Hutan yang disebut Beringin, dimana telah ada sebuah desa kecil bernama Pachetokan, sedang disana terdapat suatu pesanggrahan dinamai Garjitowati, yang dibuat oleh Susuhunan Paku Buwono II dulu dan namanya kemudian diubah menjadi Ayodya. Setelah penetapan tersebut diatas diumumkan, Sultan Hamengku Buwono segera memerintahkan kepada rakyat membabad hutan tadi untuk didirikan Kraton.

Sebelum Kraton itu jadi, Sultan Hamengku Buwono I berkenan menempati pasanggrahan Ambarketawang daerah Gamping, yang tengah dikerjakan juga. Menempatinya pesanggrahan tersebut resminya pada tanggal 9 Oktober 1755. Dari tempat inilah beliau selalu mengawasi dan mengatur pembangunan kraton yang sedang dikerjakan.

Setahun kemudian Sultan Hamengku Buwono I berkenan memasuki Istana Baru sebagai peresmiannya. Dengan demikian berdirilah Kota Yogyakarta atau dengan nama utuhnya ialah Negari Ngayogyakarta Hadiningrat. Pesanggrahan Ambarketawang ditinggalkan oleh Sultan Hamengku Buwono untuk berpindah menetap di Kraton yang baru. Peresmian mana terjadi Tanggal 7 Oktober 1756
Kota Yogyakarta dibangun pada tahun 1755, bersamaan dengan dibangunnya Kerajaan Ngayogyakarta Hadiningrat oleh Sri Sultan Hamengku Buwono I di Hutan Beringin, suatu kawasan diantara sungai Winongo dan sungai Code dimana lokasi tersebut nampak strategi menurut segi pertahanan keamanan pada waktu itu
Sesudah Proklamasi Kemerdekaan 17 Agustus 1945, Sri Sultan Hamengku Buwono IX dan Sri Paduka Paku Alam VIII menerima piagam pengangkatan menjadi Gubernur dan Wakil Gubernur Propinsi DIY dari Presiden RI, selanjutnya pada tanggal 5 September 1945 beliau mengeluarkan amanat yang menyatakan bahwa daerah Kesultanan dan daerah Pakualaman merupakan Daerah Istimewa yang menjadi bagian dari Republik Indonesia menurut pasal 18 UUD 1945. Dan pada tanggal 30 Oktober 1945, beliau mengeluarkan amanat kedua yang menyatakan bahwa pelaksanaan Pemerintahan di Daerah Istimewa Yogyakarta akan dilakukan oleh Sri Sultan Hamengkubuwono IX dan Sri Paduka Paku Alam VIII bersama-sama Badan Pekerja Komite Nasional

Meskipun Kota Yogyakarta baik yang menjadi bagian dari Kesultanan maupun yang menjadi bagian dari Pakualaman telah dapat membentuk suatu DPR Kota dan Dewan Pemerintahan Kota yang dipimpin oleh kedua Bupati Kota Kasultanan dan Pakualaman, tetapi Kota Yogyakarta belum menjadi Kota Praja atau Kota Otonom, sebab kekuasaan otonomi yang meliputi berbagai bidang pemerintahan masih tetap berada di tangan Pemerintah Daerah Istimewa Yogyakarta.

Kota Yogyakarta yang meliputi daerah Kasultanan dan Pakualaman baru menjadi Kota Praja atau Kota Otonomi dengan lahirnya Undang-Undang Nomor 17 Tahun 1947, dalam pasal I menyatakan bahwa Kabupaten Kota Yogyakarta yang meliputi wilayah Kasultanan dan Pakualaman serta beberapa daerah dari Kabupaten Bantul yang sekarang menjadi Kecamatan Kotagede dan Umbulharjo ditetapkan sebagai daerah yang berhak mengatur dan mengurus rumah tangganya sendiri. Daerah tersebut dinamakan Haminte Kota Yogyakaarta.
Untuk melaksanakan otonomi tersebut Walikota pertama yang dijabat oleh Ir.Moh Enoh mengalami kesulitan karena wilayah tersebut masih merupakan bagian dari Daerah Istimewa Yogyakarta dan statusnya belum dilepas. Hal itu semakin nyata dengan adanya Undang-undang Nomor 22 Tahun 1948 tentang Pokok-pokok Pemerintahan Daerah, di mana Daerah Istimewa Yogyakarta sebagai Tingkat I dan Kotapraja Yogyakarta sebagai Tingkat II yang menjadi bagian Daerah Istimewa Yogyakarta.

Selanjutnya Walikota kedua dijabat oleh Mr.Soedarisman Poerwokusumo yang kedudukannya juga sebagai Badan Pemerintah Harian serta merangkap menjadi Pimpinan Legislatif yang pada waktu itu bernama DPR-GR dengan anggota 25 orang. DPRD Kota Yogyakarta baru dibentuk pada tanggal 5 Mei 1958 dengan anggota 20 orang sebagai hasil Pemilu 1955.
Dengan kembali ke UUD 1945 melalui Dekrit Presiden 5 Juli 1959, maka Undang-undang Nomor 1 Tahun 1957 diganti dengan Undang-undang Nomor 18 Tahun 1965 tentang pokok-pokok Pemerintahan di Daerah, tugas Kepala Daerah dan DPRD dipisahkan dan dibentuk Wakil Kepala Daerah dan badan Pemerintah Harian serta sebutan Kota Praja diganti Kotamadya Yogyakarta.

Atas dasar Tap MPRS Nomor XXI/MPRS/1966 dikeluarkan Undang-undang Nomor 5 Tahun 1974 tentang Pokok-pokok Pemerintahan di Daerah. Berdasarkan Undang-undang tersebut, DIY merupakan Propinsi dan juga Daerah Tingkat I yang dipimpin oleh Kepala Daerah dengan sebutan Gubernur Kepala Daerah Istimewa Yogyakarta dan Wakil Gubernur Kepala Daerah Istimewa Yogyakarta yang tidak terikat oleh ketentuan masa jabatan, syarat dan cara pengangkatan bagi Kepala Daerah dan Wakil Kepala Daerah lainnya, khususnya bagi beliau Sri Sultan Hamengku Buwono IX dan Sri Paduka Paku Alam VIII. Sedangkan Kotamadya Yogyakarta merupakan daerah Tingkat II yang dipimpin oleh Walikotamadya Kepala Daerah Tingkat II dimana terikat oleh ketentuan masa jabatan, syarat dan cara pengangkatan bagi kepala Daerah Tingkat II seperti yang lain.

Seiring dengan bergulirnya era reformasi, tuntutan untuk menyelenggarakan pemerintahan di daerah secara otonom semakin mengemuka, maka keluarlah Undang-undang No.22 Tahun 1999 tentang Pemerintahan Daerah yang mengatur kewenangan Daerah menyelenggarakan otonomi daerah secara luas,nyata dan bertanggung jawab. Sesuai UU ini maka sebutan untuk Kotamadya Dati II Yogyakarta diubah menjadi Kota Yogyakarta sedangkan untuk pemerintahannya disebut dengan Pemerintahan Kota Yogyakarta dengan Walikota Yogyakarta sebagai Kepala Daerahnya.

## Ads ##
Serba Serbi
No Comments

ALL ABOUT BATIK

Sejarah Batik Di Indonesia

Dalam beberapa catatan, pengembangan batik banyak dilakukan pada masa-masa kerajaan Mataram, kemudian pada masa kerjaan Solo dan Yogyakarta.

Jadi kesenian batik ini di Indonesia telah dikenal sejak zaman kerjaan Majapahit dan terus berkembang kepada kerajaan dan raja-raja berikutnya. Adapun mulai meluasnya kesenian batik ini menjadi milik rakyat Indonesia dan khususnya suku Jawa ialah setelah akhir abad ke-XVIII atau awal abad ke-XIX. Batik yang dihasilkan ialah semuanya batik tulis sampai awal abad ke-XX dan batik cap dikenal baru setelah perang dunia kesatu habis atau sekitar tahun 1920. Adapun kaitan dengan penyebaran ajaran Islam. Banyak daerah-daerah pusat perbatikan di Jawa adalah daerah-daerah santri dan kemudian Batik menjadi alat perjaungan ekonomi oleh tokoh-tokoh pedangan Muslim melawan perekonomian Belanda.

Kesenian batik adalah kesenian gambar di atas kain untuk pakaian yang menjadi salah satu kebudayaan keluaga raja-raja Indonesia zaman dulu. Awalnya batik dikerjakan hanya terbatas dalam kraton saja dan hasilnya untuk pakaian raja dan keluarga serta para pengikutnya. Oleh karena banyak dari pengikut raja yang tinggal diluar kraton, maka kesenian batik ini dibawa oleh mereka keluar kraton dan dikerjakan ditempatnya masing-masing.

Lama-lama kesenian batik ini ditiru oleh rakyat terdekat dan selanjutnya meluas menjadi pekerjaan kaum wanita dalam rumah tangganya untuk mengisi waktu senggang. Selanjutnya, batik yang tadinya hanya pakaian keluarga kraton, kemudian menjadi pakaian rakyat yang digemari, baik wanita maupun pria. Bahan kain putih yang dipergunakan waktu itu adalah hasil tenunan sendiri.

Sedang bahan-bahan pewarna yang dipakai tediri dari tumbuh-tumbuhan asli Indonesia yang dibuat sendiri antara lain dari: pohon mengkudu, tinggi, soga, nila, dan bahan sodanya dibuat dari soda abu, serta garamnya dibuat dari tanahlumpur.

Jaman Majapahit
Batik yang telah menjadi kebudayaan di kerajaan Majahit, pat ditelusuri di daerah Mojokerto dan Tulung Agung. Mojoketo adalah daerah yang erat hubungannya dengan kerajaan Majapahit semasa dahulu dan asal nama Majokerto ada hubungannya dengan Majapahit. Kaitannya dengan perkembangan batik asal Majapahit berkembang di Tulung Agung adalah riwayat perkembangan pembatikan didaerah ini, dapat digali dari peninggalan di zaman kerajaan Majapahit. Pada waktu itu daerah Tulungagung yang sebagian terdiri dari rawa-rawa dalam sejarah terkenal dengan nama daerah Bonorowo, yang pada saat bekembangnya Majapahit daerah itu dikuasai oleh seorang yang benama Adipati Kalang, dan tidak mau tunduk kepada kerajaan Majapahit.

Diceritakan bahwa dalam aksi polisionil yang dilancarkan oleh Majapahati, Adipati Kalang tewas dalam pertempuran yang konon dikabarkan disekitar desa yang sekarang bernama Kalangbret. Demikianlah maka petugas-petugas tentara dan keluara kerajaan Majapahit yang menetap dan tinggal diwilayah Bonorowo atau yang sekarang bernama Tulungagung antara lain juga membawa kesenian membuat batik asli.

Daerah pembatikan sekarang di Mojokerto terdapat di Kwali, Mojosari, Betero dan Sidomulyo. Diluar daerah Kabupaten Mojokerto ialah di Jombang. Pada akhir abad ke-XIX ada beberapa orang kerajinan batik yang dikenal di Mojokerto, bahan-bahan yang dipakai waktu itu kain putih yang ditenun sendiri dan obat-obat batik dari soga jambal, mengkudu, nila tom, tinggi dan sebagainya.

Obat-obat luar negeri baru dikenal sesudah perang dunia kesatu yang dijual oleh pedagang-pedagang Cina di Mojokerto. Batik cap dikenal bersamaan dengan masuknya obat-obat batik dari luar negeri. Cap dibuat di Bangil dan pengusaha-pengusaha batik Mojokerto dapat membelinya dipasar Porong Sidoarjo, Pasar Porong ini sebelum krisis ekonomi dunia dikenal sebagai pasar yang ramai, dimana hasil-hasil produksi batik Kedungcangkring dan Jetis Sidoarjo banyak dijual. Waktu krisis ekonomi, pengusaha batik Mojoketo ikut lumpuh, karena pengusaha-pengusaha kebanyakan kecil usahanya. Sesudah krisis kegiatan pembatikan timbul kembali sampai Jepang masuk ke Indonesia, dan waktu pendudukan Jepang kegiatan pembatikan lumpuh lagi. Kegiatan pembatikan muncul lagi sesudah revolusi dimana Mojokerto sudah menjadi daerah pendudukan.

Ciri khas dari batik Kalangbret dari Mojokerto adalah hampir sama dengan batik-batik keluaran Yogyakarta, yaitu dasarnya putih dan warna coraknya coklat muda dan biru tua. Yang dikenal sejak lebih dari seabad yang lalu tempat pembatikan didesa Majan dan Simo. Desa ini juga mempunyai riwayat sebagai peninggalan dari zaman peperangan Pangeran Diponegoro tahun 1825.

Meskipun pembatikan dikenal sejak jaman Majapahait namun perkembangan batik mulai menyebar sejak pesat didaerah Jawa Tengah Surakarta dan Yogyakata, pada jaman kerajaan di daerah ini. Hal itu tampak bahwa perkembangan batik di Mojokerto dan Tulung Agung berikutnya lebih dipenagruhi corak batik Solo dan Yogyakarta.

Didalam berkecamuknya clash antara tentara kolonial Belanda dengan pasukan-pasukan pangeran Diponegoro maka sebagian dari pasukan-pasukan Kyai Mojo mengundurkan diri kearah timur dan sampai sekarang bernama Majan. Sejak zaman penjajahan Belanda hingga zaman kemerdekaan ini desa Majan berstatus desa Merdikan (Daerah Istimewa), dan kepala desanya seorang kiyai yang statusnya Uirun-temurun.Pembuatan batik Majan ini merupakan naluri (peninggalan) dari seni membuat batik zaman perang Diponegoro itu.

Warna babaran batik Majan dan Simo adalah unik karena warna babarannya merah menyala (dari kulit mengkudu) dan warna lainnya dari tom. Sebagai batik setra sejak dahulu kala terkenal juga didaerah desa Sembung, yang para pengusaha batik kebanyakan berasal dari Sala yang datang di Tulungagung pada akhir abad ke-XIX. Hanya sekarang masih terdapat beberapa keluarga pembatikan dari Sala yang menetap didaerah Sembung. Selain dari tempat-tempat tesebut juga terdapat daerah pembatikan di Trenggalek dan juga ada beberapa di Kediri, tetapi sifat pembatikan sebagian kerajinan rumah tangga dan babarannya batik tulis. Read more

wisata alam
1 Comment

Gembira Loka Zoo

19010008a Gembira Loka Zoo is a zoo in Yogyakarta. Loka means the place,    Gembira means haapy. Finally, nearly half a century ago, Sri Sultan Hamengkubuwono IX manifest desire to develop his predecessors ‘Bonraja’ kelangenan wildlife preserve where the king became a public garden animals. So Happy Loka was established over an area of 20 ha of protected forest half. There are more than 100 species of animals including 61 species of flora.

Located in Gajah Wong watershed. Access to the Gembira Loka is very easy to transport and city vehicles. Initially started from several animal leopard captured for disturbing local residents of villages and some came from the slopes of the forest trim burn from hot clouds.

Gembira zoo has a collection of workshops is now a fairly complete animal. Each year there are additional occupants. Have had several animals elephant gave birth to her son, also rare animals have been hatched dragon egg. In Gembira Loka reveler people can casually use the boat provided BOAD on the lake. Besides can enjoy various types of trees complement the existence of the botanical gardens.

wisata desa
1 Comment

WISATA DESA DI KABUPATEN SLEMAN

1. Kampung Sejarah “Kelor”

Lokasi :

Dusun Kelor berada di wilayh desa Bangunkerto, Kecamatan Turi, Kabupaten Sleman, Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta.Berjarak 25 km dari pusat kota ke arah utara atau sekitar 10 km dari ibukota kabupaten. Untuk mencapai dusun ini dapat ditempuh melalui jalan darat dalam waktu sekitar 30 menit dari pusat kota Jogja. Berada pada keinggian sekitar 700 m dari permukaan laut, kampung ini berhawa sejuk. Suasana alam pedesaan diperkuat dengan adanya hamparan kebun salak, sungai yang jernih dan kolam ikan serta panorama gunung merapi dari kejauhan.

Rumah Jogjo :

Joglo Kelor yang didirikan pada tahun 1835, merupakan saksi sejarah perjuangan bangsa Indonesia karena pernah dijadikan markas besar tentara pelajar(TP) seluruh Jogjakarta pada saat clash II di Jogjakarta. Joglo Kelor merupakan joglo terbaik se-kabupaten Sleman. Hal ini terliat dari bagian - bagiannya yang lebih lengkap dan masih asli. Bagian pendopo dapat digunakan sebagai ruang pertemuan.

Seni dan Budaya :

Kampung Kelor memiliki beberapa kesenian tradisional, yaitu jathilan (kuda lumping), gamelan, kethoprak, tari tradisional Yogyakarta, sholawatan klenthingan. Tradisi yang masih terpelihara dengan baik adalah tradisi kelahiran, khitanan, mantenan, mitoni, brokohan, selapanan, serta tradisi adat jawa seperti Suran, Saparan, Selikuran, Ruwahan masih ada di masyarakat sampai saat ini.

Perkebunan Salak :

Perkebunan salak terbentang dari utara sampai selatan dusun Kelor. Wisatawan dapat berinteraksi langsung dengan penduduk setempat dalam hal penanaman, pembudidayaan, dan pemetikan salak Cuwo. Wisatawan juga dapat menyusuri hamparan perkebunan salk pada malam hari dengan menggunakan cahaya “senthir”. Nama Cuwo diambil dari ciri khas tandan salak yang berbentuk mangkuk (bhs jawa: cuwo). Nama ini juga mengingatkan pada mata air yang terbentuk pertama kali di dusun Kelor. Masyarakat setempat menyabutnya dengan nama belik Cuwo.

Jelajah Sungai Bedhog:

Sungai Bedhog merupakan anak sungai yang terbentuk dari letusan gunung merapi. Sungai ini melintas di sebelah timur dusun sepanjang kurang lebih 1,5 km dengan lebar sungai 5 m dan kedalaman air maksimal 0,5 m. Wisatawan dapat menikmati keindahan alam sungai Bedhog dan melakukan penyusuran. Waktu terbaik untuk menikmati keindahan sungai ini adalah pagi sampai siang hari.

Di Kampung Kelor terdapat beberapa kolam ikan milik penduduk. Wisatawan dapat memancing, menjaring ikan ataupun ngesat blumbang (bedah kolam). Sembari menikmati suasana Kampung Kelor yang asri wisatawan dapat juga menikmati makanan khas berupa nasi pondoh dan tempe bacem…

2. ECOTOURISM IN “KETINGAN VILLAGE”

Ketingan is one of the conservation rural tourism in Sleman, Yogyakarta. ketingan has been served the safehaven for the Kuntul birds since 1997. The existence of those birds are closely related to the figure or Sri Sultan Hamengkubuwono X, the king of Yogyakarta. The Myth remains strongly believed by local people that Kuntulbirds are pets of the Sultan.

Ecotourism Activities in ketingan :

. Bird Watching
. Agricultural activities
. local arts performances
. local food production
. tree adoption

Facilities :

Homestays
Guides
Meals 3 times
Seeds

(ayie)

wisata belanja
No Comments

MALIOBORO “MANHATTAN OF JOGJA”

Kawasan Malioboro sebagai salah satu kawasan wisata belanja andalan kota Jogja, ibarat kata Malioboro itu adalah Manhattan-nya kota jogja.Hal ini dikarenakan oleh adanya pertokoan, rumah makan, pusat perbelanjaan, dan tak ketinggalan para pedagang kaki limanya. Untuk pertokoan, pusat perbelanjaan dan rumah makan yang ada sebenarnya sama seperti pusat bisnis dan belanja di kota-kota besar lainnya, yang disemarakan dengan nama-merk besar dan ada juga nama-nama lokal. Barang yang diperdagangkan dari barang import maupun lokal, dari kebutuhan sehari-hari sampai dengan barang elektronika, mebel dan lain sebagainya. Juga menyediakan aneka kerajinan, misal batik, wayang, ayaman, tas dan lain sebagainya. Terdapat pula tempat penukaran mata uang asing, bank, hotel bintang lima hingga tipe melati.

malioboro

Keramaian dan semaraknya Malioboro juga tidak terlepas dari banyaknya pedagang kaki lima yang berjajar sepanjang jalan Malioboro menjajakan dagangannya, hampir semuanya yang ditawarkan adalah barang/benda khas Jogja sebagai souvenir/oleh-oleh bagi para wisatawan. Mereka berdagang kerajinan rakyat khas Jogjakarta, antara lain kerajinan ayaman rotan, kulit, batik, perak, bambu dan lainnya, dalam bentuk pakaian batik, tas kulit, sepatu kulit, hiasan rotan, wayang kulit, gantungan kunci bambu, sendok/garpu perak, blangkon batik [semacan topi khas Jogja/Jawa], kaos dengan berbagai model/tulisan dan masih banyak yang lainnya. Para pedagang kaki lima ini ada yang menggelar dagangannya diatas meja, gerobak adapula yang hanya menggelar plastik di lantai. Sehingga saat pengunjung Malioboro cukup ramai antar pengunjung akan saling berdesakan karena sempitnya jalan bagi para pejalan kaki karena cukup padat dan banyaknya pedagang di sisi kanan dan kiri.

Dan ini juga perlu di waspadai atau mendapat perhatian khusus karena kawasan Malioboro menjadi rawan akan tindak kejahatan, ini terbukti dengan tidak sedikitnya laporan ke pihak kepolisian terdekat soal pencopetan atau penodongan, dan tidak jarang pula wisatan asing juga menjadi korban kejahatan dan ini sangat memalukan sebenarnya.

wisata sejarah
1 Comment

Candi-candi yang berada di Yogyakarta…

java_prambanan_temple

1. Candi Prambanan

Peninggalan agama Hindu abad ke-9, terletak 17 km arah Timur kota Yogyakarta. Candi yang berketinggian 147 m ini terdiri dari 13 candi utama yang dikelilingi candi-candi kecil yang disebut Perwara. Kompleks candi ini dibuka setiap hari pukul 06.00-17.30 WIB. Fasilitas pendukung adalah museum Arkeologi Visual, wartel, taman bermain, dll.
candi-sambisari

2. Candi Sambisari

Terletak 12 km arah timur kota Yogyakarta dibuka dari pukul 08.00 sampai 17.00 wib. Merupakan candi yang sangat unik karena posisinya berada 6,5 m di bawah permukaan tanah dan dibangun pada abad ke - 10.

ratuboko001

3. Situs Keraton Ratu Boko

Situs ini berada di atas bukit yang terletak 3 km arah selatan candi Prambanan. Dari lokasi situs ini kita dapat menikmati panorama kota Yogyakarta dan candi Prambanan yang sangat     indah.

candiij-domes-014

4. Candi Ijo

Candi ini terletak 7 km arah tenggara Candi Prambanan yang didukung dengan suasana panorama alam pedasaan.

kalasan

5. Candi Kalasan

Adalah Candi Budha yang prasastinya berhuruf Pranagari dan Sansekerta, dibangun pada tahun 778 M. Terletak di Dusun Kali Bening, Trirtomartani, Kalasan, Sleman atau 3 km arah barat Candi Prambanan.

sari_fig_01w

6. Candi Sari

Candi Budha yang terletak berdekatan dengan Candi Kalasan. Candi Sari ini merupakan bangunan Wihara Budha yang dibangun bertingkat pada abad 7 dan dahulu digunakan sebagai tempat belajar para biksu.

candi-barong

7. Candi Barong

Merupakan peninggalan agama Hindu yang terletak di dusun Candi Sari, Bokoharjo, Prambanan. Candi ini berada 27 m di atas permukaan laut dan berdekatan dengan Situs Ratu Boko.

candi-banyunibo

8. Candi Banyunibo

Merupakan Candi Budha yang letaknya berdekatan dengan Situs Ratu Boko dibangun abad 9.

akomodasi
No Comments

Akomodasi

AKOMODASI

RESTORAN DAN NO.TELP
1. Andrawina loka-Restaurant        (0274) 488662
2. GUdeg Bu tjitro                                 (0274) 488662
3. Ayam Goreng Suharti                    (0274) 515522
4. Joglo Mlati                                         (0274) 866700
5. Boshe                                                    (0274) 623848
6. Gedung Dhuwur/Boukenhope   (0274) 895161
7. Grafika                                                 (0274) 498410/7150838
8. Gita Buana                                          (0274) 562836
9. Graha Sarini Vidi                             (0274) 865474
10.Hani’s Resto                                     (0274) 867561
11.Hartz Chicken buffet                     (0274) 580415
12.Hegar                                                  (0274) 513833
13.KFC                                                      (0274) 563964
14.KIKO                                                   (0274) 565650
17.Natour Garuda                               (0274) 563935
18.Pacific Sriwedari                            (0274) 564191/566870
19.Pandan Perak                                  (0274) 868818/868707
20.PIZZA HUT                                      (0274) 488643
21.Pringsewu                                         (0274) 7496586
23.Sagan Resto & Lounge                 (0274) 550311/550293
24.Sentana Resto                                 (0274) 589505
25.Taman sari Food Court               (0274) 489702
26.Shila Restaurant                            (0274) 883808
27.Tempura Hana                               (0274) 517438
28.Wisma LPP                                       (0274) 588380
29.Yogya Chicken                               (0274) 524179

HOTEL

1. Sheraton Mustika Yogyakarta
Jl. Laksda Adisucipto Km 8,7 Maguwo, Depok, sleman
Telp. (0274) 488588, Fax.0274 485230

2. Hyatt Regency Yogyakarta
Jl. Palagan Tentara Pelajar, Sariharjo, Ngaglik, Sleman
Telp. (0274) 869123, Fax.869588

3. Grand Quality
Jl. Laksda Adisucipto 48 Maguwoharjo, Depok, Sleman
Telp. (0274) 485005, Fax.0274 489009

4. Sahid Raya Yogyakarta
Jl. Babarsari, Depok, Sleman
Telp. (0274) 488888, Fax.487688, 487710

5. Jayakarta
Jl. Laksda Adisucipto Km 8 P.O BOX 90 Depok, Sleman
Telp. (0274) 488418, Fax.0274 489837

6. Jogjakarta Plaza Hotel
Jl. Gejayan, Catur Tunggal, Depok, Sleman
Telp. (0274) 586720, 584222, Fax.584200

7. Puri Artha
Jl. Cendrawasih No 36, Depok, Sleman
Telp. (0274) 563288, Fax.0274 562765

8. Sejahtera Family
Jl. Pringgodani 22, Demangan Baru, Depok, Sleman
Telp. (0274) 511355, 519339, Fax.519338

9. Sri Wedari
Jl. Laksda Adisucipto Km 6 Depok, Sleman
Telp. (0274) 488162, 488288

10.Seturan
Jl. Raya Seturan, Condong Catur, Depok, Sleman
Telp. (0274) 486685, Fax.486633

11.Cakra Kusuma
Jl. Kaliurang Km 5,2 No 25, Catur Tunggal, Depok, Sleman
Telp. (0274) 550472, Fax.0274 550470

12.Cakra Kembang
Jl. Kaliurang Km 5, Catur Tunggal, Depok, Sleman
Telp. (0274) 563088

13.Ishiro Kencana
Jl. Kaliurang, Catur Tunggal, Depok, Sleman
Telp. (0274) 520240, 529230 Fax.520363

14.Poeri Devata
Klurak, Tamanmartani, Kalasan, Sleman
Telp. (0274) 496435, Fax.496354

15.River Castel
Jl. Laksda Adisucipto Km 8, Depok, Sleman
Telp. (0274) 489526, Fax.488334

wisata alam
2 Comments

Paris jogja

parangtritis-beach

Parangtritis, the most popular beach in Yogyakarta

Pantai Parangtritis adalah salah satu pantai yang mesti dikunjungi, bukan cuma karena merupakan pantai yang paling populer di Yogyakarta, tetapi juga memiliki keterkaitan erat dengan beragam objek wisata lainnya, seperti Kraton Yogyakarta, Pantai Parangkusumo dan kawasan Merapi. Pantai yang terletak 27 kilometer dari pusat kota Yogyakarta ini juga merupakan bagian dari kekuasaan Ratu Kidul.

Penamaan Parangtritis memiliki kesejarahan tersendiri. Konon, seseorang bernama Dipokusumo yang merupakan pelarian dari Kerajaan Majapahit datang ke daerah ini beratus-ratus tahun lalu untuk melakukan semedi. Ketika melihat tetesan-tetesan air yang mengalir dari celah batu karang, ia pun menamai daerah ini menjadi parangtritis, dari kata parang (=batu) dan tumaritis (=tetesan air). Pantai yang terletak di daerah itu pun akhirnya diberi nama Parangtritis.

Pantai Parangtritis merupakan pantai yang penuh mitos, diyakini merupakan perwujudan dari kesatuan trimurti yang terdiri dari Gunung Merapi, Kraton Yogyakarta dan Parangtritis. Pantai ini juga diyakini sebagai tempat bertemunya Panembahan Senopati dengan Sunan Kalijaga sesaat setelah selesai menjalani pertapaan. Dalam pertemuan itu, Senopati diingatkan agar tetap rendah hati sebagai penguasa meskipun memiliki kesaktian.

Sejumlah pengalaman wisata bisa dirasakan di pantai ini. Menikmati pemandangan alam tentu menjadi yang paling utama. Pesona alam itu bisa diintip dari berbagai lokasi dan cara sehingga pemandangan yang dilihat lebih bervariasi dan anda pun memiliki pengalaman yang berbeda. Bila anda berdiri di tepian pantainya, pesona alam yang tampak adalah pemandangan laut lepas yang maha luas dengan deburan ombak yang keras serta tebing-tebing tinggi di sebelah timurnya.

Untuk menikmatinya, anda bisa sekedar berjalan dari arah timur ke barat dan memandang ke arah selatan. Selain itu, anda juga bisa menyewa jasa bendi yang akan mengantar anda melewati rute serupa tanpa lelah. Ada pula tawaran menunggang kuda untuk menjelajahi pantai. Biayanya, anda bisa membicarakan dengan para penyewa jasa.

Usai menikmati pemandangan Parangtritis dari tepian pantai, anda bisa menuju arah Gua Langse untuk merasakan pengalaman yang berbeda. Di jalan tanah menuju Gua Langse, anda bisa melihat ke arah barat dan menyaksikan keindahan lain Parangtritis. Gulungan ombak besar yang menuju tepian pantai akan terlihat berwarna perak karena sinar matahari, dan akan berwarna menyerupai emas bila sinar matahari mulai memerah atau menjelang senja.

Puas dengan pemandangan alamnya anda bisa menikmati pengalaman wisata lain dengan menuju tempat-tempat bersejarah yang terdapat di sekitar Pantai Parangtritis. Salah satunya adalah Makam Syeh Bela Belu yang terletak di jalan menuju pantai. Anda bisa naik melalui tangga yang menghubungkan jalan raya dengan bukit tempat makam sakral ini. Umumnya, banyak peziarah datang pada hari Selasa kliwon.

Selesai mengunjungi makam, anda bisa menantang diri untuk menuju Gua Langse, gua yang harus ditempuh dengan berjalan kaki sejauh 3 km dan melalui tebing setinggi 400 meter dengan sudut kemiringan hampir 900. Untuk memasuki gua yang juga sering disebut sebagai Gua Ratu Kidul ini, anda harus meminta ijin pada juru kuncinya terlebih dahulu. Menurut salah seorang penjaga Pantai Depok yang di waktu mudanya sering menuruni gua, anda bisa melihat pemandangan laut selatan yang lebih indah begitu berhasil memasuki gua.

Untuk menuju pantai Parangtritis, anda bisa memilih dua rute. Pertama, rute Yogyakarta - Imogiri - Siluk - Parangtritis yang menawarkan pemandangan sungai dan bukit karang. Kedua, melewati rute Yogyakarta - Parangtritis yang bisa ditempuh dengan mudah karena jalan yang relatif baik. Disarankan, anda tidak mengenakan baju berwarna hijau untuk menghormati penduduk setempat yang percaya bahwa baju hijau bisa membawa petaka.